Benar-benar sekarang kondisinya semarak. Dimana-mana nyaris semua orang beranggapan sama: suaranya adalah harga yang tak ternilai, karena itu sangat pantas untuk diperhatikan, dipedulikan, dan jangan sekali-kali disepelekan. Dus, mau tak mau ada banyak pula orang berebut perhatian, berkompetisi dan bersuara selantang-lantangnya agar unggul dan menjadi panutan luas.
Tapi aku tidak. Aku tidak pernah –dan tidak akan—menganggap suaraku adalah “suara emas”. Suara yang bernilai tinggi, suara yang wajib didengarkan. Tidak. Itu karena aku tidak lagi bersemangat untuk bersuara. Mungkin aku terlalu khawatir akan terlalu banyak khilaf ketimbang lurus jika nantinya aku dipaksa untuk mengeluarkan isi mulut dan hatiku.
Amat mengerikan jika harus membayangkan dampak dari salah ucap. Tidur tak lagi nyenyak, makan tak lagi kenyang, nafas kian sesak, langkah kian berat, pandangan kian kabur, gerak hidup kian sempit. Tak ada lagi senyuman, semua berganti dengan kerutan muram. Uhh, berat!
Lebih baik diam, atau bicara seperlunya saja. Aku ikhlas jika suaraku tidak lagi menjadi bagian sejarah, lenyap ditelan hiruk pikuk bumi.
»» Selengkapnya ...
Tapi aku tidak. Aku tidak pernah –dan tidak akan—menganggap suaraku adalah “suara emas”. Suara yang bernilai tinggi, suara yang wajib didengarkan. Tidak. Itu karena aku tidak lagi bersemangat untuk bersuara. Mungkin aku terlalu khawatir akan terlalu banyak khilaf ketimbang lurus jika nantinya aku dipaksa untuk mengeluarkan isi mulut dan hatiku.
Amat mengerikan jika harus membayangkan dampak dari salah ucap. Tidur tak lagi nyenyak, makan tak lagi kenyang, nafas kian sesak, langkah kian berat, pandangan kian kabur, gerak hidup kian sempit. Tak ada lagi senyuman, semua berganti dengan kerutan muram. Uhh, berat!
Lebih baik diam, atau bicara seperlunya saja. Aku ikhlas jika suaraku tidak lagi menjadi bagian sejarah, lenyap ditelan hiruk pikuk bumi.
Jum'at, 25 Februari 2005
pukul 16.15 WIB

H. MOHAMMAD SJUBLI
Ada kelu teronggok di balik benak, tapi aku tak mampu menyingkirkannya. Betul-betul tak mampu, bukannya tak mau. Hati mengatakan jangan, tapi aku bukanlah Tuhan yang berhak menahannya. Kain putih itu tetap saja terbalutkan, kayu-kayu balok itu tetap saja terbingkaikan, hingga aku tak sadar aku telah berhadapan dengan kesunyian. Kesendirian tanpa kasih sayang yang pernah kudapatkan sejak kecil.
PEMAKAMAN GATOT KACA KOLPAJUNG, PAMEKASAN
Beristirahatlah bapak dengan tenang di tanah ini. Tersenyumlah pak, karena aku juga mencoba untuk tersenyum, meski berat.
Akhirnya aku ditinggalkannya dengan menorehkan bara yang tertanam di dada ...
Maafkan aku, Pak. Selamat jalan...
»» Selengkapnya ...
pukul 16.15 WIB

H. MOHAMMAD SJUBLI
Ada kelu teronggok di balik benak, tapi aku tak mampu menyingkirkannya. Betul-betul tak mampu, bukannya tak mau. Hati mengatakan jangan, tapi aku bukanlah Tuhan yang berhak menahannya. Kain putih itu tetap saja terbalutkan, kayu-kayu balok itu tetap saja terbingkaikan, hingga aku tak sadar aku telah berhadapan dengan kesunyian. Kesendirian tanpa kasih sayang yang pernah kudapatkan sejak kecil.
PEMAKAMAN GATOT KACA KOLPAJUNG, PAMEKASAN
Beristirahatlah bapak dengan tenang di tanah ini. Tersenyumlah pak, karena aku juga mencoba untuk tersenyum, meski berat.
Akhirnya aku ditinggalkannya dengan menorehkan bara yang tertanam di dada ...
Maafkan aku, Pak. Selamat jalan...
Aku memang telah kerap mengecewakan banyak orang. Mereka yang menggantungkan simpati dan kebanggaan di atas pundakku, karena tindakanku, ucapanku, dan segala hal yang berasal dari naluri manusiawi yang kumiliki.
Tapi kemudian semuanya "hangus" karena kenyataan yang berbicara justru sebaliknya. Aku tak mampu memenuhi harapan mereka. Tindakan, ucapan, dan sensibilitasku ternyata "jauh panggang dari api". Tak ada yang pantas untuk dibanggakan, apalagi harus bersimpati. Dus, aku yakin, mereka pasti kecewa.
Tapi tunggu dulu ... aku pun tak lebih demikian juga.
Sebagai manusia, aku juga membutuhkan "tempat bergantung", "tempat bersandar", dan "tempat berpijak". Artinya, akupun sebenarnya sama dengan mereka, naluriku mengatakan aku butuh simpatiku kuletakkan di pundak orang lain, rasa banggaku ku amanatkan kepada orang lain. Dus, aku membutuhkan panutan.
Dan apa yang terjadi ...???
Mereka yang selama ini kubanggakan, kutanam dalam-dalam rasa simpatiku, tanpa sadar satu demi satu rontok dan surut. Mereka yang selama ini kucontoh sisi baiknya, kini mulai menampakkan dominasi sisi buruknya, kekurangannya.
Untunglah, karena wawasan inilah, aku semakin percaya diri. Aku tidak terlalu pusing dengan kekuranganku sendiri. Apalagi jika sampai kekurangan ini menjadi sumber kekecewaan orang lain. Pikirku, "Inilah namanya pertarungan dua kutub kekecewaan". Mereka yang kecewa kepada ku belum tentu mampu meyakinkanku bahwa mereka pun akan sanggup membuatku bangga.
Dasar manusia, tak ada yang sempurna.
»» Selengkapnya ...
Tapi kemudian semuanya "hangus" karena kenyataan yang berbicara justru sebaliknya. Aku tak mampu memenuhi harapan mereka. Tindakan, ucapan, dan sensibilitasku ternyata "jauh panggang dari api". Tak ada yang pantas untuk dibanggakan, apalagi harus bersimpati. Dus, aku yakin, mereka pasti kecewa.
Tapi tunggu dulu ... aku pun tak lebih demikian juga.
Sebagai manusia, aku juga membutuhkan "tempat bergantung", "tempat bersandar", dan "tempat berpijak". Artinya, akupun sebenarnya sama dengan mereka, naluriku mengatakan aku butuh simpatiku kuletakkan di pundak orang lain, rasa banggaku ku amanatkan kepada orang lain. Dus, aku membutuhkan panutan.
Dan apa yang terjadi ...???
Mereka yang selama ini kubanggakan, kutanam dalam-dalam rasa simpatiku, tanpa sadar satu demi satu rontok dan surut. Mereka yang selama ini kucontoh sisi baiknya, kini mulai menampakkan dominasi sisi buruknya, kekurangannya.
Untunglah, karena wawasan inilah, aku semakin percaya diri. Aku tidak terlalu pusing dengan kekuranganku sendiri. Apalagi jika sampai kekurangan ini menjadi sumber kekecewaan orang lain. Pikirku, "Inilah namanya pertarungan dua kutub kekecewaan". Mereka yang kecewa kepada ku belum tentu mampu meyakinkanku bahwa mereka pun akan sanggup membuatku bangga.
Dasar manusia, tak ada yang sempurna.
Ada banyak orang mengejar cinta, itu karena cinta menawarkan keindahan. Ada banyak orang memburu harta, itu karena harta menjanjikan ketenangan. Ada banyak orang bergairah dengan jabatan, itu karena jabatan merupakan jembatan menuju segala surga dunia.
Tapi aku mencoba lebih realistis. Aku memang butuh cinta, karena aku merindukan keindahan yang ditawarkannya. Aku juga memimpikan harta, karena harta membuatku dibutuhkan orang. Dan aku pun mengharapkan jabatan, karena dengannya aku bisa melangkah nyaris tanpa batas.
Tetapi, terus terang aku lebih membutuhkan AIR MATA. Karena dengannya aku bisa memanfaatkan ketiga hal tersebut menjadi simbol-simbol Ketuhanan-ku sekaligus mengontrol kemahasembronoanku sebagai manusia. Akan kugunakan air mata untuk menangisi cintaku jika ia tak sesuai dengan ridho-Nya. Akan kupaksakan pula air mataku untuk men-duka-kan hartaku jika ia justru menjerumuskan kedermaanku. Dan begitu pun akan kualirkan air mata sebagai ekspresi surutku kala jabatan itu malah menghampakan kepekaan sosialku.
Ya ALLAH, berilah hambamu ini cinta, harta, dan jabatan. Tetapi berikanlah semuanya setelah Engkau berikan aku air mata. Buatlah ia terus menetes dari mataku sesering mungkin ...
»» Selengkapnya ...
Tapi aku mencoba lebih realistis. Aku memang butuh cinta, karena aku merindukan keindahan yang ditawarkannya. Aku juga memimpikan harta, karena harta membuatku dibutuhkan orang. Dan aku pun mengharapkan jabatan, karena dengannya aku bisa melangkah nyaris tanpa batas.
Tetapi, terus terang aku lebih membutuhkan AIR MATA. Karena dengannya aku bisa memanfaatkan ketiga hal tersebut menjadi simbol-simbol Ketuhanan-ku sekaligus mengontrol kemahasembronoanku sebagai manusia. Akan kugunakan air mata untuk menangisi cintaku jika ia tak sesuai dengan ridho-Nya. Akan kupaksakan pula air mataku untuk men-duka-kan hartaku jika ia justru menjerumuskan kedermaanku. Dan begitu pun akan kualirkan air mata sebagai ekspresi surutku kala jabatan itu malah menghampakan kepekaan sosialku.
Ya ALLAH, berilah hambamu ini cinta, harta, dan jabatan. Tetapi berikanlah semuanya setelah Engkau berikan aku air mata. Buatlah ia terus menetes dari mataku sesering mungkin ...
Langganan:
Postingan (Atom)
Filed Under :
22.43
Tags :