Mungkinkah ini pintu menuju NERAKA?
Wallahu a'lam .... hanya ALLAH SWT yang Maha Tahu
Bagi kita: jadikanlah ini sebagai "wasilah" (perantara) untuk meningkatkan IMAN dan SEMANGAT BERIBADAH.
Semoga Sukses!!


'Pintu neraka' ini terbentuk konon, berawal dari 35 tahun lalu ketika para ahli geologi menggali tempat tersebut untuk mencari gas bumi murni.

Tiba-tiba di tengah penggalian tersebut, mereka menemukan jurang yang besar di bawah tanah. Karena terlalu besar, semua peralatan penggalian terperosok jatuh ke dalam jurang tersebut.

Tidak ada seorangpun yang berani turun ke dalam jurang tersebut karena jurang tersebut dipenuhi gas bumi murni yang beracun dan berbahaya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat gas bumi tersebut, para ahli geologi tersebut kemudian menyulutkan api ke dalam jurang tersebut. Dan sejak saat itu hingga kini, jurang tersebut terus menerus terbakar selama 35 tahun tanpa sedikitpun berhenti.
»» Selengkapnya ...
Wallahu a'lam .... hanya ALLAH SWT yang Maha Tahu
Bagi kita: jadikanlah ini sebagai "wasilah" (perantara) untuk meningkatkan IMAN dan SEMANGAT BERIBADAH.
Semoga Sukses!!
Pemandangan ini berada di negara Asia Tengah, Uzbekistan. Cukup 'menakutkan' tapi kemungkinan berasal dari lahar gunung berapi atau mulut gunung berapi.

Oleh sebagian besar penduduk setempat dinamakan Pintu Neraka (Hellgate), berada di dekat sebuah bandara kecil bernama Darvaz.

'Pintu neraka' ini terbentuk konon, berawal dari 35 tahun lalu ketika para ahli geologi menggali tempat tersebut untuk mencari gas bumi murni.

Tiba-tiba di tengah penggalian tersebut, mereka menemukan jurang yang besar di bawah tanah. Karena terlalu besar, semua peralatan penggalian terperosok jatuh ke dalam jurang tersebut.

Tidak ada seorangpun yang berani turun ke dalam jurang tersebut karena jurang tersebut dipenuhi gas bumi murni yang beracun dan berbahaya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat gas bumi tersebut, para ahli geologi tersebut kemudian menyulutkan api ke dalam jurang tersebut. Dan sejak saat itu hingga kini, jurang tersebut terus menerus terbakar selama 35 tahun tanpa sedikitpun berhenti.
Alangkah hebatnya polisi kita ...
Kenapa hebat? Bukankah polisi adalah profesi yang "rawan" cercaan dan intimidasi moral? Bukankah hampir sebagian besar orang selalu dilematis plus skeptis ketika berurusan dengan polisi? Bukankah di luar sana banyak orang yang lebih baik memilih menghindar untuk tidak berurusan dengan polisi?
Masih ingat berita tahun lalu tentang statemen bahwa polisi adalah institusi paling korup? Berdasar riset Global Corruption Barometer (GCB) 2007 yang diluncurkan Transparansi Internasional Indonesia (TII) , ternyata polisi adalah institusi paling korup. Sekedar tahu, GCB adalah pendapat dan catatan pengalaman masyarakat tentang sebuah institusi yang minta suap. "Jadi ada persepsinya, juga ada pengalaman empirisnya," kata salah seorang pengurus TII.
Lalu, dimana letak kehebatannya? OK, saya bisa katakan ada banyak kemungkinan dari hasil riset itu. Bisa benar bisa salah. Benar karena sesuai fakta, atau mungkin salah karena berbagai macam apologi.
OK, anggap saja riset itu tidak ada. Sekarang kita pakai "ukuran" dan "kacamata" kita sendiri. Tengok lagi dan cari sendiri kemungkinannya dalam kejadian yang paling dekat saja dengan kehidupan kita sehari-hari. Mari sama-sama menjawab pertanyaan berikut ini: Benarkah polisi sedemikian "kotor"nya?
Kalau riset tadi mendapatkan fakta seperti itu, lalu bagaimana dengan kita sendiri? Apakah juga menemukan hal yang sama? Atau sebaliknya, justru polisi adalah "pahlawan" bagi kita karena selalu membantu kelancaran tugas dan aktivitas kita? Atau mungkin kita adalah seorang anak yang menggantungkan hidupnya dari profesi ayahnya sebagai polisi yang selalu bertugas seperti tanpa kenal "jam keluarga": berangkat pagi buta, pulang larut malam. Atau bisa jadi anda seorang perempuan bersuamikan polisi yang selalu bekerja di bawah "ancaman". Hidup di bawah kewas-wasan menunggu suami pulang bekerja dari beragam ancaman, sebut saja ancaman pelaku kejahatan, polusi kesehatan, atau bahkan ancaman berbentuk tuntutan dapur dan perut. Polisi hanyalah jabatan, mereka tetaplah manusia yang perlu ber-"sounding" atas nama kebutuhan asasinya.
Atau barangkali kita juga termasuk pihak yang sering dirugikan polisi. Pernah diperlakukan tidak adil di saat berkendaraan di jalan raya, sehingga harus menyumpahserapahi polisi hingga tujuh turunan. Geram melihat tindakan mereka yang seenaknya memanfaatkan postur wibawanya untuk menarik suap, pelicin, sogokan, atau istilah-istilah lainnya, pokoknya yang berbau "uang haram" lah! Atau mungkin di antara kita yang harus mengelus dada alias makan hati melihat ketidakdisiplinan, keurakan, dan kenaifan polisi yang lebih memilih melakukan "pembodohan" masyarakat dengan ketimbang "membina" masyarakat dalam hal kesadaran hukum dan peraturan. Belum lagi sederet catatan kelabu lainnya dari kondite relasi polisi dengan masyarakat yang begitu banyak. Karena saking banyaknya, mendingan kita tidak perlu pikirkan itu. Capek, alias menguras banyak tenaga dan resiko. Polisi terlalu hebat dan powerful untuk kita lawan.
Saya hanya bisa "melawan"nya dengan menarik nurani saya untuk cukup berstrategi dalam batin: Polisi kita memang HEBAT dan LUAR BIASA! Kenapa? Bayangkan dan rasakan saja deh, di antara sekian banyak himpitan hidup dan tuntutan hidup, mereka masih "rela" berkorban dirinya, baik disadari atau tidak, untuk banyak orang. Berkorban diri hidup di bawah ancaman penyakit pernapasan demi ketertiban lalu lintas yang merupakan tanggungjawabnya sebagai polisi lalu lintas. Siap mengabdikan dirinya sembari mengesampingkan ancaman hilangnya nyawa karena konsekuensi pekerjaan. Dan rela menerima potensi stress dan depresi diri karena selalu berada dalam tekanan dan dilema yang paling pelik sekalipun saat berhadapan dengan beragam tuntutan masyarakat yang kadung permisif dengan faktor-faktor lain kecuali keharusan polisi menjalankan tugasnya dengan benar. Polisi benar-benar profesi paling rawan dan paling banyak mendapatkan tekanan.
Saya hanya bisa berandai dan berangan-angan: andai POLISI kita adalah juga seorang HYPNOTHERAPIST dan MOTIVATOR HANDAL, tentu ia tidak akan sebegitu dilematisnya menghadapi banyak kendala tadi. Ia tahu cara mengendalikan stress atau melepas emosi negatif, bagi dirinya sendiri. Paham cara kerja otak dan pikiran, mengerti dampak dari pikiran positif-negatif, dan mampu mengasah kepekaan hati dan intuisinya. Ia juga sangat piawai cara mengendalikan amarah orang lain dan tahu bagaimana cara mengarahkan bawah sadar orang lain (sugesti) untuk hal-hal positif, seperti memotivasi orang agar taat hukum dan menyadari setiap kesalahan. Polisi yang paham dampak dari setiap tindakan yang dilakukan manusia sehalus dan sekasar, sekecil dan sebesar apapun itu. Dan lain-lain, dan lain-lain ... Pokoknya semua hal yang lumrah bagi seorang Hypnotherapist atau Motivator handal.
Kira-kira, kapan itu bisa terwujud???
tulisan ini juga dimuat di http://diy-malang.blogspot.com/
»» Selengkapnya ...
Kenapa hebat? Bukankah polisi adalah profesi yang "rawan" cercaan dan intimidasi moral? Bukankah hampir sebagian besar orang selalu dilematis plus skeptis ketika berurusan dengan polisi? Bukankah di luar sana banyak orang yang lebih baik memilih menghindar untuk tidak berurusan dengan polisi?
Masih ingat berita tahun lalu tentang statemen bahwa polisi adalah institusi paling korup? Berdasar riset Global Corruption Barometer (GCB) 2007 yang diluncurkan Transparansi Internasional Indonesia (TII) , ternyata polisi adalah institusi paling korup. Sekedar tahu, GCB adalah pendapat dan catatan pengalaman masyarakat tentang sebuah institusi yang minta suap. "Jadi ada persepsinya, juga ada pengalaman empirisnya," kata salah seorang pengurus TII.
Lalu, dimana letak kehebatannya? OK, saya bisa katakan ada banyak kemungkinan dari hasil riset itu. Bisa benar bisa salah. Benar karena sesuai fakta, atau mungkin salah karena berbagai macam apologi.
OK, anggap saja riset itu tidak ada. Sekarang kita pakai "ukuran" dan "kacamata" kita sendiri. Tengok lagi dan cari sendiri kemungkinannya dalam kejadian yang paling dekat saja dengan kehidupan kita sehari-hari. Mari sama-sama menjawab pertanyaan berikut ini: Benarkah polisi sedemikian "kotor"nya?
Kalau riset tadi mendapatkan fakta seperti itu, lalu bagaimana dengan kita sendiri? Apakah juga menemukan hal yang sama? Atau sebaliknya, justru polisi adalah "pahlawan" bagi kita karena selalu membantu kelancaran tugas dan aktivitas kita? Atau mungkin kita adalah seorang anak yang menggantungkan hidupnya dari profesi ayahnya sebagai polisi yang selalu bertugas seperti tanpa kenal "jam keluarga": berangkat pagi buta, pulang larut malam. Atau bisa jadi anda seorang perempuan bersuamikan polisi yang selalu bekerja di bawah "ancaman". Hidup di bawah kewas-wasan menunggu suami pulang bekerja dari beragam ancaman, sebut saja ancaman pelaku kejahatan, polusi kesehatan, atau bahkan ancaman berbentuk tuntutan dapur dan perut. Polisi hanyalah jabatan, mereka tetaplah manusia yang perlu ber-"sounding" atas nama kebutuhan asasinya.
Atau barangkali kita juga termasuk pihak yang sering dirugikan polisi. Pernah diperlakukan tidak adil di saat berkendaraan di jalan raya, sehingga harus menyumpahserapahi polisi hingga tujuh turunan. Geram melihat tindakan mereka yang seenaknya memanfaatkan postur wibawanya untuk menarik suap, pelicin, sogokan, atau istilah-istilah lainnya, pokoknya yang berbau "uang haram" lah! Atau mungkin di antara kita yang harus mengelus dada alias makan hati melihat ketidakdisiplinan, keurakan, dan kenaifan polisi yang lebih memilih melakukan "pembodohan" masyarakat dengan ketimbang "membina" masyarakat dalam hal kesadaran hukum dan peraturan. Belum lagi sederet catatan kelabu lainnya dari kondite relasi polisi dengan masyarakat yang begitu banyak. Karena saking banyaknya, mendingan kita tidak perlu pikirkan itu. Capek, alias menguras banyak tenaga dan resiko. Polisi terlalu hebat dan powerful untuk kita lawan.
Saya hanya bisa "melawan"nya dengan menarik nurani saya untuk cukup berstrategi dalam batin: Polisi kita memang HEBAT dan LUAR BIASA! Kenapa? Bayangkan dan rasakan saja deh, di antara sekian banyak himpitan hidup dan tuntutan hidup, mereka masih "rela" berkorban dirinya, baik disadari atau tidak, untuk banyak orang. Berkorban diri hidup di bawah ancaman penyakit pernapasan demi ketertiban lalu lintas yang merupakan tanggungjawabnya sebagai polisi lalu lintas. Siap mengabdikan dirinya sembari mengesampingkan ancaman hilangnya nyawa karena konsekuensi pekerjaan. Dan rela menerima potensi stress dan depresi diri karena selalu berada dalam tekanan dan dilema yang paling pelik sekalipun saat berhadapan dengan beragam tuntutan masyarakat yang kadung permisif dengan faktor-faktor lain kecuali keharusan polisi menjalankan tugasnya dengan benar. Polisi benar-benar profesi paling rawan dan paling banyak mendapatkan tekanan.
Saya hanya bisa berandai dan berangan-angan: andai POLISI kita adalah juga seorang HYPNOTHERAPIST dan MOTIVATOR HANDAL, tentu ia tidak akan sebegitu dilematisnya menghadapi banyak kendala tadi. Ia tahu cara mengendalikan stress atau melepas emosi negatif, bagi dirinya sendiri. Paham cara kerja otak dan pikiran, mengerti dampak dari pikiran positif-negatif, dan mampu mengasah kepekaan hati dan intuisinya. Ia juga sangat piawai cara mengendalikan amarah orang lain dan tahu bagaimana cara mengarahkan bawah sadar orang lain (sugesti) untuk hal-hal positif, seperti memotivasi orang agar taat hukum dan menyadari setiap kesalahan. Polisi yang paham dampak dari setiap tindakan yang dilakukan manusia sehalus dan sekasar, sekecil dan sebesar apapun itu. Dan lain-lain, dan lain-lain ... Pokoknya semua hal yang lumrah bagi seorang Hypnotherapist atau Motivator handal.
Kira-kira, kapan itu bisa terwujud???
tulisan ini juga dimuat di http://diy-malang.blogspot.com/
17 APRIL, 16 JUNI, 10 OKTOBER, DAN 7 AGUSTUS
Filed Under :
Apa yang Pernah Kulakukan
by Miftah
01.06
Ada apa dengan keempat tanggal di atas? Adakah yang sangat penting di hari-hari tersebut?
Benar, memang di hari itu pernah menjadi hari yang penting bagiku. Tepat di tanggal-tanggal tersebut aku pernah dibuat sibuk untuk sekedar menunjukkan perhatian dan, tentu saja, wujud "kasih sayang".
Begitukah? Iya, karena tanggal-tanggal tersebut merupakan hari kelahiran perempuan-perempuan yang pernah singgah di hatiku.
17 April 1978 adalah kelahiran AW. 16 Juni 1978 saat Puji mengulang kembali umurnya yang bertambah. 10 Oktober 1975 merupakan hari bersejarahnya Ning Fa, dan 7 Agustus 1978 menjadi milik Rini.
Dan karena aku pernah mencintainya, maka alam bawah sadarku terbawa ke dalam tuntutan diri sendiri. Keharusan bagiku untuk mempelihatkan kadar kesungguhan kepada mereka. Aku pun menjadi sibuk, setidaknya berpikir bagaimana caranya mengucapkan selamat ulang tahun.
Yang sempat kuingat, telah banyak variasi yang kulakukan pada tanggal-tanggal tersebut. Mulai dari yang biasa-biasa saja seperti mengirimkan kartu ucapan selamat, hingga yang paling heboh seperti ... ah sudahlah, tak usah diingat lagi!
Yang jelas, semuanya itu bertujuan untuk meyakinkan pasanganku bahwa aku masih tetap seperti dulu, berusaha menjadi bagian dari hidupnya ... Itu saja.
»» Selengkapnya ...
Benar, memang di hari itu pernah menjadi hari yang penting bagiku. Tepat di tanggal-tanggal tersebut aku pernah dibuat sibuk untuk sekedar menunjukkan perhatian dan, tentu saja, wujud "kasih sayang".
Begitukah? Iya, karena tanggal-tanggal tersebut merupakan hari kelahiran perempuan-perempuan yang pernah singgah di hatiku.
17 April 1978 adalah kelahiran AW. 16 Juni 1978 saat Puji mengulang kembali umurnya yang bertambah. 10 Oktober 1975 merupakan hari bersejarahnya Ning Fa, dan 7 Agustus 1978 menjadi milik Rini.
Dan karena aku pernah mencintainya, maka alam bawah sadarku terbawa ke dalam tuntutan diri sendiri. Keharusan bagiku untuk mempelihatkan kadar kesungguhan kepada mereka. Aku pun menjadi sibuk, setidaknya berpikir bagaimana caranya mengucapkan selamat ulang tahun.
Yang sempat kuingat, telah banyak variasi yang kulakukan pada tanggal-tanggal tersebut. Mulai dari yang biasa-biasa saja seperti mengirimkan kartu ucapan selamat, hingga yang paling heboh seperti ... ah sudahlah, tak usah diingat lagi!
Yang jelas, semuanya itu bertujuan untuk meyakinkan pasanganku bahwa aku masih tetap seperti dulu, berusaha menjadi bagian dari hidupnya ... Itu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)







Tags :
