Dia orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV. Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis. Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta. Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.
Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata: Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.
Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut,
Sudah pernah nonton film atau baca buku Pursuit of Happyness ? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah orang berpendidikan tinggi tapi dia terus berusaha dan berjuang, Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.
Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven. Ketika Beethoven berumur di ujung dua puluhan, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.
Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya. Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?- Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.
- Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.

- Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun1833.
- Mengalami patah semangat pada tahun 1836.
- Gagal memenangkan kontes pembicara pada tahun1838.
- Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.
- Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.
- Dilantik menjadi anggota Kongres pada tahun 1846.
- Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.
- Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.
- Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
- Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.
Akhirnya pada tahun 1860 dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.
Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates. Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy
Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang. Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$, artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo satu miliar dolar (Rp. 9,500,000,000,000).

Suatu ketika di sebuah penerbangan Jakarta – LA, ada seorang ahli komputer dan insinyur yang duduk bersebelahan. Karena penerbangan yang cukup panjang, si ahli komputer (A) pun didera kebosanan kemudian mencoba beramah – tamah dengan si insiyur (I) ;
A: Profesi Bapak apa?
I : Saya insinyur
A: Oo...saya seorang programmer
Si insinyur tidak berminat menanggapi si ahli komputer karna dia merasa mengantuk dan ingin tidur sepanjang perjalanan itu. Namun si ahli komputer tidak menyerah begitu saja.
A: Pak, bagaimana kalo kita bermain tebak-tebakan?
I: Maaf saya mengantuk ...
A: Gini deh kalo saya ngga bisa jawab pertanyaan Bapak, saya bayar $5, kalo Bapak yang nggak bisa jawab, Bapak yang harus bayar ke saya $5. Gimana?
I: Maaf, saya ngga berminat
A: Oke - oke, saya ubah penawarannya. Kalau Bapak ngga bisa jawab pertanyaan saya, Bapak bayar $5 saja. Tapi, kalo saya yang ngga bisa jawab, saya bayar $100 pada Bapak. Setuju?
Karena merasa sangat terganggu dengan si ahli komputer akhirnya si insinyur menyetujui tawaran itu, dengan tujuan agar si ahli komputer itu tidak mengganggunya lagi setelah itu.
I: Ok. Silakan saja dimulai.
A: Ok. Siapa penemu microchip yang pertama di dunia?
Si insinyur pun segera mengangsurkan uang $5 pada si ahli komputer tanpa pikir panjang. Si ahli komputer pun kegirangan.
A: Ok. Sekarang giliran Bapak bertanya.
I: Ok. Ketika naik gunung dia berkaki tiga, ketika turun gunung dia berkaki empat. Apakah itu?
A: Hah??
Si ahli komputer pun kebingungan, karna tidak ingin kehilangan uang $100, dia pun segera mencari jawaban kesana kemari. Dia bertanya pada seisi pesawat, tapi tidak ada yang mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.
Akhirnya setelah 1.5 jam, si ahli komputer akhirnya menyerah dan membangunkan si insinyur yang sudah pulas.
A: Pak, saya menyerah. Ini $100 nya.
I: Terima kasih yaaa
A: Tapi Pak, saya penasaran. Memangnya "Ketika naik gunung dia berkaki tiga, ketika turun gunung dia berkaki empat" itu apa?
Si insinyur pun segera memberikan $5 pada si ahli komputer dan kembali tidur.
Wallahu a'lam .... hanya ALLAH SWT yang Maha Tahu
Bagi kita: jadikanlah ini sebagai "wasilah" (perantara) untuk meningkatkan IMAN dan SEMANGAT BERIBADAH.
Semoga Sukses!!
Pemandangan ini berada di negara Asia Tengah, Uzbekistan. Cukup 'menakutkan' tapi kemungkinan berasal dari lahar gunung berapi atau mulut gunung berapi.

Oleh sebagian besar penduduk setempat dinamakan Pintu Neraka (Hellgate), berada di dekat sebuah bandara kecil bernama Darvaz.

'Pintu neraka' ini terbentuk konon, berawal dari 35 tahun lalu ketika para ahli geologi menggali tempat tersebut untuk mencari gas bumi murni.

Tiba-tiba di tengah penggalian tersebut, mereka menemukan jurang yang besar di bawah tanah. Karena terlalu besar, semua peralatan penggalian terperosok jatuh ke dalam jurang tersebut.

Tidak ada seorangpun yang berani turun ke dalam jurang tersebut karena jurang tersebut dipenuhi gas bumi murni yang beracun dan berbahaya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat gas bumi tersebut, para ahli geologi tersebut kemudian menyulutkan api ke dalam jurang tersebut. Dan sejak saat itu hingga kini, jurang tersebut terus menerus terbakar selama 35 tahun tanpa sedikitpun berhenti.
Kenapa hebat? Bukankah polisi adalah profesi yang "rawan" cercaan dan intimidasi moral? Bukankah hampir sebagian besar orang selalu dilematis plus skeptis ketika berurusan dengan polisi? Bukankah di luar sana banyak orang yang lebih baik memilih menghindar untuk tidak berurusan dengan polisi?
Masih ingat berita tahun lalu tentang statemen bahwa polisi adalah institusi paling korup? Berdasar riset Global Corruption Barometer (GCB) 2007 yang diluncurkan Transparansi Internasional Indonesia (TII) , ternyata polisi adalah institusi paling korup. Sekedar tahu, GCB adalah pendapat dan catatan pengalaman masyarakat tentang sebuah institusi yang minta suap. "Jadi ada persepsinya, juga ada pengalaman empirisnya," kata salah seorang pengurus TII.
Lalu, dimana letak kehebatannya? OK, saya bisa katakan ada banyak kemungkinan dari hasil riset itu. Bisa benar bisa salah. Benar karena sesuai fakta, atau mungkin salah karena berbagai macam apologi.
OK, anggap saja riset itu tidak ada. Sekarang kita pakai "ukuran" dan "kacamata" kita sendiri. Tengok lagi dan cari sendiri kemungkinannya dalam kejadian yang paling dekat saja dengan kehidupan kita sehari-hari. Mari sama-sama menjawab pertanyaan berikut ini: Benarkah polisi sedemikian "kotor"nya?
Kalau riset tadi mendapatkan fakta seperti itu, lalu bagaimana dengan kita sendiri? Apakah juga menemukan hal yang sama? Atau sebaliknya, justru polisi adalah "pahlawan" bagi kita karena selalu membantu kelancaran tugas dan aktivitas kita? Atau mungkin kita adalah seorang anak yang menggantungkan hidupnya dari profesi ayahnya sebagai polisi yang selalu bertugas seperti tanpa kenal "jam keluarga": berangkat pagi buta, pulang larut malam. Atau bisa jadi anda seorang perempuan bersuamikan polisi yang selalu bekerja di bawah "ancaman". Hidup di bawah kewas-wasan menunggu suami pulang bekerja dari beragam ancaman, sebut saja ancaman pelaku kejahatan, polusi kesehatan, atau bahkan ancaman berbentuk tuntutan dapur dan perut. Polisi hanyalah jabatan, mereka tetaplah manusia yang perlu ber-"sounding" atas nama kebutuhan asasinya.
Atau barangkali kita juga termasuk pihak yang sering dirugikan polisi. Pernah diperlakukan tidak adil di saat berkendaraan di jalan raya, sehingga harus menyumpahserapahi polisi hingga tujuh turunan. Geram melihat tindakan mereka yang seenaknya memanfaatkan postur wibawanya untuk menarik suap, pelicin, sogokan, atau istilah-istilah lainnya, pokoknya yang berbau "uang haram" lah! Atau mungkin di antara kita yang harus mengelus dada alias makan hati melihat ketidakdisiplinan, keurakan, dan kenaifan polisi yang lebih memilih melakukan "pembodohan" masyarakat dengan ketimbang "membina" masyarakat dalam hal kesadaran hukum dan peraturan. Belum lagi sederet catatan kelabu lainnya dari kondite relasi polisi dengan masyarakat yang begitu banyak. Karena saking banyaknya, mendingan kita tidak perlu pikirkan itu. Capek, alias menguras banyak tenaga dan resiko. Polisi terlalu hebat dan powerful untuk kita lawan.
Saya hanya bisa "melawan"nya dengan menarik nurani saya untuk cukup berstrategi dalam batin: Polisi kita memang HEBAT dan LUAR BIASA! Kenapa? Bayangkan dan rasakan saja deh, di antara sekian banyak himpitan hidup dan tuntutan hidup, mereka masih "rela" berkorban dirinya, baik disadari atau tidak, untuk banyak orang. Berkorban diri hidup di bawah ancaman penyakit pernapasan demi ketertiban lalu lintas yang merupakan tanggungjawabnya sebagai polisi lalu lintas. Siap mengabdikan dirinya sembari mengesampingkan ancaman hilangnya nyawa karena konsekuensi pekerjaan. Dan rela menerima potensi stress dan depresi diri karena selalu berada dalam tekanan dan dilema yang paling pelik sekalipun saat berhadapan dengan beragam tuntutan masyarakat yang kadung permisif dengan faktor-faktor lain kecuali keharusan polisi menjalankan tugasnya dengan benar. Polisi benar-benar profesi paling rawan dan paling banyak mendapatkan tekanan.
Saya hanya bisa berandai dan berangan-angan: andai POLISI kita adalah juga seorang HYPNOTHERAPIST dan MOTIVATOR HANDAL, tentu ia tidak akan sebegitu dilematisnya menghadapi banyak kendala tadi. Ia tahu cara mengendalikan stress atau melepas emosi negatif, bagi dirinya sendiri. Paham cara kerja otak dan pikiran, mengerti dampak dari pikiran positif-negatif, dan mampu mengasah kepekaan hati dan intuisinya. Ia juga sangat piawai cara mengendalikan amarah orang lain dan tahu bagaimana cara mengarahkan bawah sadar orang lain (sugesti) untuk hal-hal positif, seperti memotivasi orang agar taat hukum dan menyadari setiap kesalahan. Polisi yang paham dampak dari setiap tindakan yang dilakukan manusia sehalus dan sekasar, sekecil dan sebesar apapun itu. Dan lain-lain, dan lain-lain ... Pokoknya semua hal yang lumrah bagi seorang Hypnotherapist atau Motivator handal.
Kira-kira, kapan itu bisa terwujud???
tulisan ini juga dimuat di http://diy-malang.blogspot.com/
17 APRIL, 16 JUNI, 10 OKTOBER, DAN 7 AGUSTUS
Filed Under :
Apa yang Pernah Kulakukan
by Miftah
01.06
Benar, memang di hari itu pernah menjadi hari yang penting bagiku. Tepat di tanggal-tanggal tersebut aku pernah dibuat sibuk untuk sekedar menunjukkan perhatian dan, tentu saja, wujud "kasih sayang".
Begitukah? Iya, karena tanggal-tanggal tersebut merupakan hari kelahiran perempuan-perempuan yang pernah singgah di hatiku.
17 April 1978 adalah kelahiran AW. 16 Juni 1978 saat Puji mengulang kembali umurnya yang bertambah. 10 Oktober 1975 merupakan hari bersejarahnya Ning Fa, dan 7 Agustus 1978 menjadi milik Rini.
Dan karena aku pernah mencintainya, maka alam bawah sadarku terbawa ke dalam tuntutan diri sendiri. Keharusan bagiku untuk mempelihatkan kadar kesungguhan kepada mereka. Aku pun menjadi sibuk, setidaknya berpikir bagaimana caranya mengucapkan selamat ulang tahun.
Yang sempat kuingat, telah banyak variasi yang kulakukan pada tanggal-tanggal tersebut. Mulai dari yang biasa-biasa saja seperti mengirimkan kartu ucapan selamat, hingga yang paling heboh seperti ... ah sudahlah, tak usah diingat lagi!
Yang jelas, semuanya itu bertujuan untuk meyakinkan pasanganku bahwa aku masih tetap seperti dulu, berusaha menjadi bagian dari hidupnya ... Itu saja.
Pertanyaan tersebut patut diangkat karena akal sehat pasti heran, kenapa menjadi ketua OSIS harus menyesal? Bukankah itu sebuah kebanggaan? Bukankah tidak semua orang dapat kesempatan yang sama menjadi ketua OSIS? Dan bukankah jabatan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga, setidaknya buat mengasah mental dan sikap kepemimpinan kita?
Aku setuju dengan daftar pertanyaan di atas. Aku pun sepaham betapa jawaban dari seluruh keheranan tadi adalah konsekuensi yang positif bagi seorang siswa SMA seperti aku ini.
Tapi bukan hal itu yang membuatku menyesal. Bukan. Tetapi karena ada "sisi lain" di samping semua proses konstruktif sebagai pemimpin siswa seperti yang dikemukakan tadi. Dan sisi itulah yang membuatku pantas menyesal. Sampai saat ini. Apakah itu?
Tanpa sadar dulu aku pernah melakukan tindakan tidak layak bagi seorang pemimpin. Yang kumaksudkan adalah rekayasa politik. Mungkin anda akan kaget dan terhenyak, mungkinkah tindakan itu dilakukan oleh anak seusiaku? Mungkin anda akan setengah tidak percaya jika dengan jujur kujawab : Iya. Sebab anda barangkali akan berpikir jika tindakan tersebut hanya mungkin bisa dan dicerna oleh akal orang dewasa, atau oleh orang dewasa tertentu yang berkecimpung di dunia politik. Tapi anak-anak, atau anak SMA, apa mungkin? Aku jawab : bisa saja. Dan sampelnya ya aku sendiri. Dan percaya tidak, jika aku melakukannya sampai 2 kali !
Begini ceritanya :
Rekayasa Politik pertama adalah ketika awal kepengurusan OSIS pimpinanku. Ketika itu kegiatan pergantian pengurus (Reformasi) OSIS menghasilkan kepengurusan dengan kepemimpinanku, menggantikan Sdr. Fariyono Zanny pada periode sebelumnya, 1991/1992. Selain itu formasi pengurus harian lain juga telah terisi, yaitu Ketua Satu Sdr. Sarijan Ahmad dan Ketua Dua Sdr. Ach. Fadla'il. Sementara pada pos Sekretaris Umum ditempati Sdr. Abd. Barhan, dibantu Sekretaris Satu Sdr. Moch. Turmudzi dan Sekretaris Dua oleh Sdr. Faishol Thohir. Sedangkan untuk Bendahara Umum dipegang Ach. Hisan dan Bendahara satu Sdr. Hasyim Kamal. Pada periode kepemimpinanku ini OSIS SMA pertama kali membentuk lembaga baru, yaitu Dewan Perwakilan Kelas (DPK) dan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK). Lembaga ini dijabat oleh satu orang yang diangkat tersendiri di luar kepengurusan OSIS dengan fungsi sama dengan DPR/MPR dalam konteks negara. Lembaga ini sebelum periodeku belum pernah ada, dan pertama kali dijabat oleh Sdr. Fariyono Zanny (ex Ketua OSIS 1991/1992).
Sebenarnya formasi ini sudah cukup mantap, dan sempat berjalan beberapa bulan. Tetapi di tengah jalan ada "gonjang-ganjing". Ternyata tanpa disadari sebelumnya telah muncul perseteruan individual yang pemicunya tidak jelas benar. Tapi yang pasti, perseteruan itu terjadi antar pengurus harian. Ironisnya, salah satunya melibatkan pengurus harian yakni Abdul Barhan (Sekretaris Umum). Oleh sebagian pengurus Abdul Barhan ini tidak disukai karena konon gayanya yang kurang etis. Agak angkuh dan, katanya orang Madura, magaya. Awal-awalnya dibiarkan saja, tapi lama kelamaan mulai gerah. Parahnya, dari yang semula hanya sedikit orang yang tidak suka, lama-lama bertambah banyak. Waktu itu aku tidak ikut-ikutan. Tapi lama kelamaan berubah, ikut terbawa arus. (dan inilah yang kusesali sampai sekarang) Keadaan yang kian kritis ini akhirnya memunculkan opsi pemberhentian Abdul Barhan sebagai sekretaris. Hampir semua pengurus sepakat secepatnya Barhan dicarikan pengganti. Aku sendiri tidak bisa berbuat apa ketika langkah selanjutnya adalah pemberhentian Barhan dan digantikan oleh Sdr. M. Hafidz. Yang kusesali juga sampai sekarang adalah meskipun aku tidak terlibat langsung dalam proses tersebut, dalam pengertian sebagai aktor utamanya, tetapi ketidakmampuanku bersikap atas gonjang-ganjing ini juga berperan besar atas terjadinya peristiwa tersebut. Andai saja aku tegas, mungkin lain ceritanya. Padahal aku tahu semua itu penuh rekayasa politik. Sedih juga jika diingat sekarang bagaimana perasaan Barhan ketika itu.
Sedangkan rekayasa politik kedua lebih "perih"lagi. Itu karena kali ini aku terlibat, bahkan sebagai aktor utamanya, alias otak intelektual. Ketika itu masa jabatan kepengurusan OSIS SMA Ibrahimy yang kupimpin sebentar lagi akan habis. Konsentrasi seluruh pengurus terpusat kepada persiapan kegiatan reformasi atau pergantian kepengurusan. Karena itu segala sesuatunya dipersiapkan sedini mungkin agar lebih matang dan terencana dengan baik. Lalu digelar-lah beberapa pertemuan dan rencana-rencana, sesuai kebutuhan.
Namun selain urusan persiapan teknis, secara khusus pula aku sebagai ketua OSIS mempersiapkan sesuatu yang tak kalah pentingnya, menurutku. Yaitu mempersiapkan dan sekaligus mematangkan siapa sebenarnya yang pantas menjadi ketua OSIS periode mendatang. Ide ku ini lalu kusosialisasikan kepada semua pengurus. Yang tak kalah pentingnya dari hal ini adalah bahwa ideku ini menggunakan satu asumsi sebagai "kendaraannya" : Bahwa demi kemajuan OSIS dan melanjutkan situasi kondusif yang sudah terjadi pada periode kepengurusanku hingga ke periode selanjutnya, maka perlu dihindari adanya "spekulasi politik" dengan memberikan kepemimpinan OSIS kepada siswa yang sama sekali buta dengan pengalaman organisasi. Artinya, dengan kata lain, implementasi ideku ini berbentuk postulat bahwa Ketua OSIS yang akan datang harus dari salah satu pengurus OSIS sekarang, karena asumsinya mereka yang pernah aktif saat ini sudah lebih berpengalaman dibandingkan siswa-siswa yang lain. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa kesuksesan kegiatan OSIS sangat ditentukan oleh kapasitas Ketua, sedangkan faktor lain hanya nomer sekian.
Ide tersebut kukondisikan kepada teman-teman pengurus lain, antara lain melalui rapat demi rapat. Dari forum tersebut kupompa terus ide itu sampai menghasilkan keseragaman pemahaman. Akhirnya, teman-teman setuju. Lalu disusun strategi "pemenangan"-nya. Di sinilah dimulai rekayasa politik itu.
Tahapan pertama adalah pencarian figur ketua. Kategori pertama figur ini, yang jelas, harus mantan pengurus OSIS periodeku sehingga advantage point-nya adalah pengalaman. Kategori kedua adalah harus berasal dari kelas 2 saat menjabat ketua. Persyaratan ini sudah baku dari dulu, karena diasumsikan jika kelas 1 belum "mengenal medan", sedangkan kelas 3 sudah harus dikonsentrasikan menghadapi ujian kelulusan. Nah kelas 2 yang netral dan paling ideal.
Kemudian untuk mencari figur yang tepat sesuai kriteria, beberapa pengurus berkumpul mengadakan seleksi dan skrining. Tidak semua pengurus yang terlibat, hanya pengurus yang sudah kelas tiga saja, atau mereka yang untuk periode selanjutnya tidak mungkin menjadi Ketua OSIS. Kami seleksi satu persatu kandidat-kandidatnya, dinilai dari kecakapan dan keluwesannya. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya muncul satu nama yang dominan : Moch. Turmudzi.
Calon telah ditemukan, artinya tahapan pertama sudah dilalui. Selanjutnya beranjak ke tahapan berikutnya : "proses pemenangan". Di sinilah rekayasa politik paling transparan itu terjadi, yakni di satu sisi berupa pemaksaan kemenangan calon pilihan tadi, dan di sisi lain "penyumbatan" demokrasi secara tidak langsung. Artinya, aku sebagai ketua OSIS dengan dukungan pengurus lain bersikukuh Turmudzi harus menjadi pelanjut posisi ketua, dengan menggunakan rasionalitas dan argumentasi seperti tadi, dan bahkan demi tujuan itu segala cara harus dilakukan tak peduli meskipun harus meminggirkan proses demokrasi yang fair sekalipun.
Alhasil, karena spirit itu-lah, maka terjadilah rekayasa politik ala siswa-siswa SMA. Saat acara pemungutan suara, aku sebagai pimpinan sidang melakukan kecurangan dengan cara "menggelembungkan suara" Turmudzi. Ketika membaca surat suara, sebagian besar kubaca nama Turmudzi, meski yang tercantum bukan namanya. Dan untuk memuluskan itu, semua saksi-saksi yang mayoritas pengurus OSIS yang masuk geng-ku sudah disiapkan sebelumnya. Jadi benar-benar halus, hingga sebagian besar audiens ketika itu tidak menyadari terjadinya rekayasa tersebut. Turmudzi benar-benar naik menjadi ketua.
Ya Allah, ampunilah dosaku. Jangan lagi Kau bisikkan kebusukan itu kepadaku, suatu saat. Aku benar-benar menyesal...
(Terjadi di bulan Agustus 1993)
Pertama adalah pilihan untuk melanjutkan studi di SMA Pamekasan. Sedangkan yang kedua adalah tetap bertahan di Sukorejo dengan memilih SMA Ibrahimy. Pertarungan yang amat sulit ditentukan siapa pemenangnya.
Itu tidak lain karena aku punya alasan yang sama-sama kuat dari kedua pilihan tersebut. Satu sisi batinku mengatakan, "Kalau kamu ingin berkembang lebih baik, sekaranglah saatnya mengambil keputusan penting : segera pilih sekolah di SMA 2 Pamekasan. Lanjutkan di sana karena sekolah itu terkenal gudangnya anak-anak berprestasi. Barangkali kamu bisa kecipratan, syukur-syukur bisa melebihi. Sedangkan jika engkau tetap di sini, aku jamin tidak ada perubahan yang berarti. Kamu akan datar-datar saja." Rasional dan masuk akal juga.
Tetapi sisi lainnya tak mau kalah, "Percuma sobat. Apalah artinya prestasi di sektor itu kalau ternyata nuranimu tidak sejalan dengan petunjuk uluhiyah. Aku ingatkan, jika saat ini kamu mengambil keputusan untuk menghentikan petualangan keislamanmu sampai di sini, maka habislah masa 3 tahun pencarianmu tentang Islammu. Ibarat pepatah, "kemarau setahun musnah oleh hujan sehari." Ingat, itu sungguh-sungguh akan terjadi. Kenapa? Karena menurutku masa 3 tahun itu belum memadai untuk membekaskan di dalam ke-diri-anmu. Belum ada apa-apa yang bisa kau banggakan nantinya. Silahkan pilih lanjutkan di luar, itu hakmu. Tetapi bersiap saja menerima resikonya."
Benar-benar linglung aku dibuatnya. Hingga hampir menghabiskan waktu cukup lama, tetapi belum ada keputusan yang dibuat. Padahal waktu semakin mepet. Pendaftaran siswa baru di SMA 2 Pamekasan hampir ditutup. Keluarga di Pamekasan sudah tanya-tanya kepastiannya. Bapak di rumah juga sudah gusar karena aku terlalu bertele-tele, "Cepat, buat keputusan! Supaya bapak bisa siap-siap." Tinggal keputusanku yang ditunggu, hal lain sudah siap. Ijazah SMP sudah keluar, rekomendasi gampang diurus, bisa 1 hari selesai. Ongkos dan biaya penunjang sudah OK.
Justru karena desakan itu, aku semakin kalang kabut. Bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat???
Akhirnya, di antara 2 pilihan tersebut aku dapat memutuskan. Seolah-olah ada yang membisikkan di telingaku, "Fren, tetaplah di pesantren ini. Lanjutkan perjalananmu di ranah yang sama. Yakinkan dirimu karena ada hikmah besar yang akan kau petik nantinya."
OKE-lah. Akhirnya, aku melanjutkan sekolah di SMA Ibrahimy. Kutambah pengalamanku di pesantren ini 3 tahun lagi. Bismillahirrohmanirrohim.
(Terjadi di bulan Juni 1991)
Alasanku kenapa menyukai kucing adalah karena kucing ternyata merupakan hasil gabungan dari dua sifat yang berlawanan: baik dan buruk. Lembut dan keras. Jinak dan liar. Kucing punya simbol kekerasan. Lihatlah cakar, gigi-gigi taring, dan ketajaman tatapan matanya. Tapi ia pun memiliki ciri kelembutan yang tiada taranya dalam dengusan dan aumannya. (Aku paling senang jika tengah membelai kucing yang tengah tertidur pulas, karena saat itu terdengarlah dengusannya yang sangat menyentuh)
Karena favorit, aku mencoba menirunya. Mengambil yang pantas diambil. Aku berharap memiliki kelembutan mirip kucing. Bersahabat dengan siapa saja. Bertutur kata dan bertingkah lembut dengan siapapun.
Tapi jangan sekali-kali injak ekor kucing. Harga dirinya. Ia bisa sangat liar dan sudi melukai siapapun. Ingat, kucing sebenarnya masih berkerabat dengan macan. Sifat dan perilakunya tak jauh beda.
Aku ingin lembut dengan siapa pun. Tapi jangan sekali-kali sentuh hal-hal yang sensitif. Aku bisa jadi “macan”.
Karena aku meyakini, momentum adalah sesuatu yang termasuk berharga mahal. Amat mahal bahkan. Padahal momentum bukan barang konkrit, tetapi abstrak.
Tapi biarpun abstrak, wahh ... bagiku ia amat berharga. Untuk memperolehnya tidak segampang membalikkan kedua telapak tangan. Bahkan jika sekalipun ratusan tulang telah kubanting, ribuan tetes keringat telah kuperas, belum tentu momentum dengan sendirinya dapat diraih.
So, apa itu momentum???Kok begitu sulit meraihnya?? Momentum adalah seperseribu detik kesempatan untuk meraih apa yang dicita-citakan. Seperseribu detik kesempatan???? Singkat sekali????
Begitulah, dan itu dia yang membuatnya begitu mahal. Tidak mudah meraihnya, plus kehadirannya amat singkat. Aku merasa selama ini tidak gampang memperolehnya. Aku kerap mengkonstruksi suatu rencana. Banyak rencana, bahkan di antaranya termasuk "rencana besar".
Tapi ya itu tadi, karena aku gagal meraih momentum, rencana-rencana itu tak pernah menjadi kenyataan. Aku berharap suatu saat aku mampu membeli momentum itu, seberapa pun mahal harganya. Pasti!
Tapi aku tidak. Aku tidak pernah –dan tidak akan—menganggap suaraku adalah “suara emas”. Suara yang bernilai tinggi, suara yang wajib didengarkan. Tidak. Itu karena aku tidak lagi bersemangat untuk bersuara. Mungkin aku terlalu khawatir akan terlalu banyak khilaf ketimbang lurus jika nantinya aku dipaksa untuk mengeluarkan isi mulut dan hatiku.
Amat mengerikan jika harus membayangkan dampak dari salah ucap. Tidur tak lagi nyenyak, makan tak lagi kenyang, nafas kian sesak, langkah kian berat, pandangan kian kabur, gerak hidup kian sempit. Tak ada lagi senyuman, semua berganti dengan kerutan muram. Uhh, berat!
Lebih baik diam, atau bicara seperlunya saja. Aku ikhlas jika suaraku tidak lagi menjadi bagian sejarah, lenyap ditelan hiruk pikuk bumi.
pukul 16.15 WIB

H. MOHAMMAD SJUBLI
Ada kelu teronggok di balik benak, tapi aku tak mampu menyingkirkannya. Betul-betul tak mampu, bukannya tak mau. Hati mengatakan jangan, tapi aku bukanlah Tuhan yang berhak menahannya. Kain putih itu tetap saja terbalutkan, kayu-kayu balok itu tetap saja terbingkaikan, hingga aku tak sadar aku telah berhadapan dengan kesunyian. Kesendirian tanpa kasih sayang yang pernah kudapatkan sejak kecil.
PEMAKAMAN GATOT KACA KOLPAJUNG, PAMEKASAN
Beristirahatlah bapak dengan tenang di tanah ini. Tersenyumlah pak, karena aku juga mencoba untuk tersenyum, meski berat.
Akhirnya aku ditinggalkannya dengan menorehkan bara yang tertanam di dada ...
Maafkan aku, Pak. Selamat jalan...
Tapi kemudian semuanya "hangus" karena kenyataan yang berbicara justru sebaliknya. Aku tak mampu memenuhi harapan mereka. Tindakan, ucapan, dan sensibilitasku ternyata "jauh panggang dari api". Tak ada yang pantas untuk dibanggakan, apalagi harus bersimpati. Dus, aku yakin, mereka pasti kecewa.
Tapi tunggu dulu ... aku pun tak lebih demikian juga.
Sebagai manusia, aku juga membutuhkan "tempat bergantung", "tempat bersandar", dan "tempat berpijak". Artinya, akupun sebenarnya sama dengan mereka, naluriku mengatakan aku butuh simpatiku kuletakkan di pundak orang lain, rasa banggaku ku amanatkan kepada orang lain. Dus, aku membutuhkan panutan.
Dan apa yang terjadi ...???
Mereka yang selama ini kubanggakan, kutanam dalam-dalam rasa simpatiku, tanpa sadar satu demi satu rontok dan surut. Mereka yang selama ini kucontoh sisi baiknya, kini mulai menampakkan dominasi sisi buruknya, kekurangannya.
Untunglah, karena wawasan inilah, aku semakin percaya diri. Aku tidak terlalu pusing dengan kekuranganku sendiri. Apalagi jika sampai kekurangan ini menjadi sumber kekecewaan orang lain. Pikirku, "Inilah namanya pertarungan dua kutub kekecewaan". Mereka yang kecewa kepada ku belum tentu mampu meyakinkanku bahwa mereka pun akan sanggup membuatku bangga.
Dasar manusia, tak ada yang sempurna.
Tapi aku mencoba lebih realistis. Aku memang butuh cinta, karena aku merindukan keindahan yang ditawarkannya. Aku juga memimpikan harta, karena harta membuatku dibutuhkan orang. Dan aku pun mengharapkan jabatan, karena dengannya aku bisa melangkah nyaris tanpa batas.
Tetapi, terus terang aku lebih membutuhkan AIR MATA. Karena dengannya aku bisa memanfaatkan ketiga hal tersebut menjadi simbol-simbol Ketuhanan-ku sekaligus mengontrol kemahasembronoanku sebagai manusia. Akan kugunakan air mata untuk menangisi cintaku jika ia tak sesuai dengan ridho-Nya. Akan kupaksakan pula air mataku untuk men-duka-kan hartaku jika ia justru menjerumuskan kedermaanku. Dan begitu pun akan kualirkan air mata sebagai ekspresi surutku kala jabatan itu malah menghampakan kepekaan sosialku.
Ya ALLAH, berilah hambamu ini cinta, harta, dan jabatan. Tetapi berikanlah semuanya setelah Engkau berikan aku air mata. Buatlah ia terus menetes dari mataku sesering mungkin ...
INGIN KUSEWA BOURAQ UNTUK KEDUA ORANG TUAKU
Filed Under :
Apa yang Pernah Kupikirkan
by Miftah
23.09
Aku ingin 'keajaiban' itu ada di tanganku juga. Tapi bukan aku yang akan menikmatinya, tetapi justru sebagai hadiah terbesarku kepada orang tuaku. Aku sering menangisi diriku sendiri. Menangisi keteledoranku sebagai anak yang terlalu sering menyusahkan orang tua. Aku merasa akulah anak yang paling sulit diatur, sulit diarahkan, dan sulit menerima sesuatu dengan lapang dada. Daya inilah yang sering menjadi potensi untuk makin merunyamkan kewajibanku terhadap orang tua. Dus, orang tuaku sering susah dan tak habis pikir menghadapi kelakuanku ini. Anak mbeling, susah diatur, teledor, dan sebagainya.
Aku pernah memikirkan bahwa kematian itu sebenarnya sangat indah. Bukan seperti sedikit orang yang mengagungkan hidup, dunia, karir, dan derajat. Aku pernah ingin mati, tapi bukan mati yang dipaksakan, bukan pula mati yang meregang tanpa proses prasangka buruk kepada Tuhan. Tetapi mati yang berfilosofi. Aku ingin mati karena merasa kehidupanku selama ini terlalu banyak dosa, bahkan terkesan kurang produktif melahirkan sesuatu yang bermakna. Lantas untuk apa semua itu dipertahankan dengan memaksa untuk tetap terus hidup? Untuk apa berlama-lama di dunia sementara tak ada satupun yang membuat kita bersaksi senyum di hadapan Tuhan? Aku ingin cepat-cepat bertemu Ia di sana. Akan kuserahkan semua laporan pertanggungjawaban kehidupan, dan segera menerima segala konsesi hukuman, lalu kemudian tenang setelah semuanya selesai. Tapi, kematian itu belum juga datang.
Aku cuma ingin semua tahu bahwa aku sesungguhnya ingin hidup tanpa kemapanan statis. Aku paling tidak suka hidup dengan cara yang itu-itu saja. Monoton, apalagi diwarnai dengan skeptisme. Lebih-lebih lagi jika hidup dengan kemapanan tetapi sementara di sekitarku ternyata tampak bagaikan jurang menganga.
Karena itu aku lalu bersaudara dengan seutas keyakinan: "adakah masa depanku tanpa kebahagiaan yang lahir dari kemapanan?" Punya gaji tetap dari posisi basah sebagai pejabat berkelas tinggi, rumah besar bak istana, mobil mewah. Mungkin, angan-angan ini agak sedikit tidak wajar, lagian siapa sih orang yang tidak mau hidupnya mapan, sejahtera, harmonis, dan semuanya serba terjamin hingga tujuh turunan?
Tapi, aku pernah berpikir.... "Ah, lebih baik dekat dengan rakyat jelata, meski tak harus hidup dengan ngos-ngosan " Dus, pernah aku berpikir tak tertarik sama sekali menjalani hidup ini dengan karir pegawai negeri. "Apa yang didapat? Gaji? Ah, rejeki masih banyak di tempat lain, ketimbang aku harus mengorbankan dinamika." Yang penting jumawa saja.
Tags :







